Ngegas 6.483 Kasus!

Ngegas 6.483 Kasus! Ini Update Corona RI 26 Juli

Ngegas 6.483 Kasus!, Jakarta – Indonesia mencatat 6.483 kasus baru COVID-19, Selasa (26/7/2022), di barengi 3.511 kasus sembuh

Baca juga: Bonge Bantah Terima Rp 500 Juta

dan 13 pasien meninggal dunia akibat COVID-19. Sedangkan kasus aktif kini ada sebanyak 43.422.

Hari ini juga tercatat sebanyak 141.961 spesimen diperiksa dengan suspek sebanyak 7.071. Total kasus COVID-19 terkonfirmasi di Indonesia kini ada sebanyak 6.178.873.

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menyebut pemerintah tengah merencanakan vaksinasi COVID-19 booster kedua. Program vaksin COVID-19 dosis keempat ini bakal diprioritaskan bagi kelompok rentan seperti lansia hingga tenaga kesehatan.

Mudah-mudahan dalam waktu dekat, karena itu membutuhkan masukan dari ahlinya. Nanti kita akan segera informasikan, beber Menkes saat ditemui di Hotel Raffles Jakarta, Ciputra World Jl Prof Dr Satrio, Jakarta, Selasa (26/7).

43 Ribu Lebih Kasus Aktif COVID-19 RI 26 Juli, Ini 10 Penyumbang Terbanyak

Tercatat sebanyak 43.422 kasus aktif COVID-19 di Indonesia, Selasa (26/7/2022). Sementara itu kasus positif bertambah 6.483 kasus, sembuh 3.522 dan meninggal 13 kasus.

Dari 43 ribu lebih kasus aktif yang tercatat, sebanyak 21.606 berasal dari DKI Jakarta sebagai penyumbang terbanyak. Jawa Barat menempati urutan kedua dengan 10.808 kasus.

Berikut 10 provinsi penyumbang kasus aktif terbanyak:

DKI Jakarta 21.606
Jawa Barat 10.808
Banten 4.209
Bali 1.558
Jawa Tengah 946
DI Yogyakarta 927
Jawa Timur 654
Kalimantan Selatan 525
Sumatera Utara 376
Kalimantan Timur 269

Detail perkembangan kasus COVID-19 RI Selasa (26/7/2022) adalah sebagai berikut:

Kasus positif bertambah 6.483 menjadi 6.178.873
Kasus sembuh bertambah 3.522 menjadi 5.978.522
Kasus meninggal bertambah 13 menjadi 156.929

Tercatat jumlah kasus aktif sebanyak 43.422, jumlah spesimen yang di periksa sebanyak 141.961, dan suspek yang di amati sebanyak 7.071.

Menkes Ungkap Kapan Vaksin COVID-19 Booster Kedua Di berikan

Kementerian Kesehatan RI tengah mempertimbangkan pemberian vaksin COVID-19 dosis keempat atau booster kedua. Nantinya, suntikan booster kedua ini akan diprioritaskan untuk kelompok rentan, salah satunya tenaga kesehatan (nakes).

Menteri Kesehatan RI Budi Gunadi Sadikin mengatakan saat ini pemberian vaksin booster kedua masih di pelajari. Ini dilakukan karena masih ada beberapa nakes yang terinfeksi, meski sudah mendapatkan vaksin COVID-19.

Kita memang sekarang sedang mempelajari untuk vaksinasi booster untuk tenaga kesehatan. Memang ada beberapa tenaga kesehatan kita yang kena, jawab Menkes saat ditemui detikcom di Jakarta, Selasa (26/7/2022).

Terkait targetnya, Menkes Budi berharap vaksinasi booster kedua ini bisa diberikan pada nakes dalam waktu dekat. Sebab, hal ini masih membutuhkan berbagai masukan dari para ahli yang kompeten di bidang tersebut.

Mudah-mudahan dalam waktu dekat, karena itu membutuhkan masukan dari ahlinya. Nanti kita akan segera informasikan, sambungnya.

Sebelumnya, juru bicara Kemenkes RI Mohammad Syahril mengatakan vaksin booster kedua ini rencananya akan diberikan pada kelompok rentan. Pertimbangan pemberian vaksin ini dikarenakan masa antibodi pasca vaksinasi hanya bertahan selama enam bulan.

Jika pandemi COVID-19 masih terus berlanjut, vaksin booster ini dibutuhkan oleh kelompok rentan sebagai penguat antibodi. Meski tidak mencegah seseorang tertular, vaksin terbukti ampuh untuk melawan risiko bergejala COVID-19 berat dan mengurangi risiko perawatan di rumah sakit.

Sehingga apabila nanti pandemi terjadi berkepanjangan, maka ada suatu rekomendasi dari berbagai pihak untuk vaksinasi booster kedua khususnya pada kelompok berisiko contohnya lansia tenaga kesehatan dan yang melayani publik, ungkap Syahril kepada wartawan, Jumat (22/7/2022).

COVID-19 Masih Ngegas, Berapa Dosis Vitamin C yang Diperlukan Tubuh?

Saat ini, jumlah kasus pasien pengidap COVID-19 terus bertambah. Salah satu upaya meningkatkan daya tahan tubuh adalah dengan asupan vitamin C. Berapa banyak dosis vitamin C yang dapat dikonsumsi selama pandemi?

Vitamin C adalah antioksidan yang dapat melawan kerusakan oksidatif. Saat sistem kekebalan diaktifkan untuk membunuh patogen berarti juga dapat menyebabkan kerusakan oksidatif.

Dikutip dari Medical News Today, beberapa dokter percaya bahwa mengonsumsi suplemen vitamin C dapat mendukung sistem kekebalan tubuh. Ini menunjukkan vitamin C dapat melawan kerusakan yang disebabkan oleh penyakit.

Beberapa studi menyarankan untuk mengonsumsi vitamin C agar membantu mengobati peradangan dan gejala karena COVID-19. Ini berfungsi sebagai antioksidan dan membantu melawan peradangan yang dapat merusak paru-paru dan organ lainnya.

Ketua Indonesia Asosiasi Ahli Gizi Olahraga (ISNA) dr Rita Ramayulis, DCN, MKes, menjelaskan bahwa umumnya kebutuhan vitamin C yang diperlukan pada wanita dan pria berbeda. Untuk wanita sebesar 75 mg dan pria 90 mg per hari.

Mengonsumsi 500 hingga 1.000 mg bitamin C saat pandemi diperbolehkan. Hal ini bertujuan untuk menambah perlindungan tubuh saat pandemi, jelasnya, dalam sebuah webinar, Rabu (28/7/2021).

Namun, ternyata mengonsumsi vitamin C pada individu yang sehat dan yang terpapar COVID-19 memiliki dosis yang berbeda. Lagi-lagi, harus dilihat dari gejala individu yang terpapar masuk dalam kategori ringan atau berat.

Saat individu terpapar COVID-19, maka harus mengonsumsi vitamin C lebih dari 1.000 mg dengan catatan harus di bawah pengawasan tenaga kesehatan. Selain itu, dosis 2.000, 5.000, bahkan 10.000 mg dapat diberikan melalui infus karena penanganannya lebih khusus, tambahnya.

Baca juga: 10 Model Big-Size