03/12/2022
Petani Sawit di Agam Menjerit

Petani Sawit di Agam Menjerit, Harga jual tanda buah segar (TBS) sawit di kalangan petani di Kabupaten Agam, Sumatera Barat (Sumbar), semakin anjlok. Bahkan, pekan ini hasil kepala sawit itu hanya di hargai Rp 500 per kilonya. Salah seorang pemilik kebun sawit di Kecamatan Lubuk Basung,

Ir (28) mengatakan, harga beli rendah dari tengkulak ini sudah terjadi sejak 15 hari terakhir, yang sebelumnya Rp 600 per kilo.

Semakin turun pak Petani Sawit di Agam Menjerit, minggu lalu Rp 600 sekarang malah Rp 500 per kilo,” katanya, di kutip dari Covesia.com – jaringan, Kamis (28/7/2022).

Atas kondisi itu, sebagian masyarakat akhirnya enggan memanen sawit mereka, terutama bagi yang memiliki kebun jauh dari jalan raya.

Biaya panen mahal, belum lagi upah lansir ke tepi jalan, jika di jumlahkan lebih mahal dari harga jual, jadi tidak bisa kami panen,” katanya lagi Petani Sawit di Agam Menjerit.

Ia berharap kondisi ini bisa menjadi perhatian pemerintah di tambah lagi biaya hidup yang semakin sulit.

Hal itu dibenarkan Salah seorang tengkulak sawit di Kecamatan Lubuk Basung, Amzal, menurutnya, harga jual beli sawit memang selalu berubah Petani Sawit di Agam Menjerit

hal tersebut tergantung harga dunia, kebutuhan Pabrik pengolah CPO. Pengiriman CPO berkurang sehingga pesanan TBS Petani Sawit di Agam Menjerit

dari pabrik pengolahan juga berkurang sehingga perusahaan menurunkan harga dan pedagang ada tidak membeli TBS,” katanya. Petani Sawit di Agam Menjerit

Ia mengakui, murahnya harga TBS akibat pabrik tidak membeli TBS milik petani setelah persediaan TBS cukup banyak di pabrik kelapa sawit Petani Sawit di Agam Menjerit.

Untuk di daerah setempat lanjutnya, sebagian besar para petani mengambil pupuk dari tengkulak dan di bayar saat panen Petani Sawit di Agam Menjerit.

Baca Juga  Wow! Menakutkan Orang Yang Terinfeksi Campak 2022

Sementara itu untuk proses panen juga masih mengeluarkan biaya hingga pengangkutan hasil panen hingga ke jalan.

Setiap petani di kecamatan Lubuk Basung sudah memiliki tengkulak langganan sendiri, setiap akan panen, petani akan menghubungi tengkulak Petani Sawit di Agam Menjerit

untuk memanen atau menjual, biasanya setiap 20 hari. Setiap panen TBS sawit langsung ditimbang dan dibayar, namun ada sebagian petani Petani Sawit di Agam Menjerit

yang sudah meminta pinjaman karena ada kebutuhan mendadak, biasanya perjanjian dibayarkan saat panen.

Untuk harga beli dari kalangan petani tergantung dari jarak tempuh serta proses panen. Jika panen sawit di lakukan oleh tengkulak, maka harga beli di kurangi upah panen Petani Sawit di Agam Menjerit.

Harga Sawit Riau Naik Pelan-pelan, Petani: Semoga Sampai Rp3.000 per Kg

Petani Sawit di Agam Menjerit
  • Petani Sawit di Siak dan Bengkalis mulai sedikit bernafas lega lantaran harga tandan buah segar (TBS) berangsur mengalami kenaikan.

Kendati harga sawit naik pelan-pelan namun petani mensyukuri hal tersebut.

Sugianto (39) warga Kecamatan Mempura, Siak menyampaikan meski kenaikan harga sawit tak secepat saat mengalami penurunan, namun ia mengaku bersyukur.

“Walaupun harga sawit naiknya sangat pelan dan berbeda dengan waktu turunnya langsung anjlok, kami tetap bersyukur

karena harganya sudah di atas Rp1.000/Kg,” kata Sugianto kepada Suara.com, Kamis (28/7/2022).

Di katakan Sugianto, dalam beberapa pekan terakhir ini memang harga sawit di daerahnya mengalami kenaikan secara berangsur.

Di sebutkannya, pada minggu sebelumnya harga sawit petani di hargai dengan harga Rp950/Kg, saat ini di akui Anto audah mencapai Rp1.150/Kg.

“Waktu di bawah Rp1.000/Kg, sekarang ini sawit kami di beli dengan harga Rp1.150 oleh toke sawit,” sebutnya.

Baca Juga  Pengakuan Komplotan Penembak Kapolda Di Tahun 2022

Menurut Anto, harga sawit petani saat ini, belum mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari. Hal itu di sampaikannya karena masih tingginya harga bahan pokok di pasaran.

Belum lagi, lanjutnya, operasional mengelola kebun sawit tersebut seperti untuk memupuk, membeli pestisida untuk rumput dan membersihkan kebun.

“Harga segitu tentunya belum mencukupi untuk memenuhi kebutuhan hidup yang semakin hari harga sembako semakin mahal,

belum lagi biaya pendidikan anak dan sebagainya,” kata Anto. Di tambah harga pupuk yang masih sangat mahal, harga pestisida mahal,

belum lagi biaya operasional ke kebun, jadi harga tersebut belumlah mencukupi,” tambahnya.

Anto berharap dengan kebutuhan hidup dan biaya operasional kebun sawit yang tinggi harga sawit di petani bisa lebih dari Rp2.000/Kg.

Ia pun berharap agar pemerintah serius menangani harga kelapa sawit saat ini.

“Kalau bisa harga sawit di atas Rp2.000/Kg lah baru bisa cukup. Kami berharap pemerintah jangan banyak kali ikut campur tangan soal pajak pajak sawit ini,

makin susah malahan dibuatnya,” tutur dia. Hal senada di ungkapkan petani sawit di Kabupaten Bengkalis.

Muhammad Adora (34) warga di Kecamatan Rupat menyampaikan bahwa terjadi kenaikan harga sawit di tingkat petani secara berangsur.

“Harga sawit memang naik, tapi naiknya macam siput berjalan. Kalau pas turun baru laju,” kata Adora.

Disebutkan Adora, saat ini sawit di petani dibeli dengan harga Rp.1.150/Kg. Harga tersebut jika sawitnya ia jual di rupat sendiri.

Kalau di jual di Rupat harganya Rp1.150/Kg tapi kalau dijual di Duri arau Dumai sudah mencapai Rp1.270/Kg,” jelas Adora.

Adora berharap agar harga sawit bisa kembali ke harga Rp3.000/Kg.

“Mudah-mudahn harga sawit bisa mencapai Rp3.000/Kg. Tapi jangan lama betul naiknya,” harapnya.

Baca Juga  Viral! Penjual Cincau Viral DiBogor, Bisa Bahasa Inggris Hingga Belanda 2022

Harga Referensi CPO Naik, Kemendag Kerek Bea Keluar Jadi USD 18 per Metrik Ton

Petani Sawit di Agam Menjerit

Kementerian Perdagangan menetapkan harga referensi produk minyak kelapa sawit (crude palm oil atau CPO) sebesar US$ 770,88 per metrik ton. Harga tersebut berlaku untuk penetapan bea keluar (BK) periode 1 hingga 5 November 2022.

Ia mengungkapkan peningkatan harga referensi CPO berdampak terhadap naiknya bea keluar menjadi US$ 18 per metrik ton. Perubahan itu menyesuaikan ke tentuan yang termaktub dalam kolom 3 lampiran huruf C pada Peraturan Menteri Keuangan Nomor 123/PMK.010/2022.

Adapun harga referensi CPO diatur dalam Keputusan Menteri Perdagangan Nomor 1460 Tahun 2022 tentang Harga Referensi Crude Palm Oil yang Di kenakan Bea Keluar dan Tarif Layanan Badan Layanan Umum Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit.

Selanjutnya, minyak goreng dalam kemasan bermerek dengan berat bersih kurang atau maksimal 25 kilogram tidak akan di kenakan bea keluar. Aturan itu tercantum dalam Keputusan Menteri Perdagangan Nomor 1462 Tahun 2022 tentang Daftar Merek Refined, Bleached, And Deodorized (RBD) Palm Olein.

Didi berujar saat ini harga referensi CPO meningkat di atas ambang batas sebesar US$ 680 per metrik ton. Karena itu, pemerintah menaikan bea keluar CPO hingga 15 November 2022. Ia menjelaskan peningkatan harga referensi CPO dipengaruhi sejumlah faktor, misalnya penurunan pasokan dari Indonesia dan Malaysia. Penurunan pasokan itu di akibatkan oleh meningkatnya curah hujan dan konflik Ukraina dan Rusia yang memanas.

Penyebab lainnya adalah rencana negara-negara OPEC+ untuk mengurangi produksi minyak mentah dunia sebesar 2 juta barel per hari mulai November 2022. Selain itu, terjadi penurunan harga minyak nabati lainnya, seperti kedelai dan minyak canola.